
Toyotacibinong.id – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, memberikan apresiasi atas kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun non-subsidi. Menurutnya, langkah ini memberikan dampak positif di tengah ketidakpastian global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai keputusan tersebut mampu menenangkan masyarakat sekaligus meredam kepanikan yang sempat muncul, termasuk isu kenaikan harga yang beredar di media sosial dan memicu antrean di sejumlah SPBU.

Kebijakan Presiden Jaga Daya Beli Masyarakat
Eddy juga menyoroti upaya Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menilai pemerintah berhasil mengantisipasi dampak fluktuasi harga minyak dunia agar tidak berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Menurutnya, kebijakan ini menjadi bentuk perlindungan terhadap konsumen, khususnya pengguna BBM, agar tetap mampu memenuhi kebutuhan energi tanpa tekanan ekonomi tambahan.
Waspadai Persaingan Global dalam Pasokan Energi
Meski mengapresiasi langkah pemerintah, Eddy mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak kalah besar, terutama dalam menjaga ketersediaan pasokan energi.
Ia menyoroti meningkatnya persaingan antarnegara dalam memperoleh pasokan minyak, khususnya negara-negara besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang sangat bergantung pada impor energi.
Kondisi ini berpotensi membuat persaingan semakin ketat, sehingga Indonesia perlu memiliki strategi yang kuat untuk mengamankan pasokan energi.
Belajar dari Pengalaman Krisis Global
Eddy mengingatkan pengalaman saat pandemi COVID-19, di mana ketersediaan vaksin menjadi sangat terbatas dan diperebutkan banyak negara.
Menurutnya, situasi serupa dapat terjadi pada sektor energi jika pasokan global semakin terbatas. Hal ini berpotensi memicu lonjakan harga hingga krisis energi yang berdampak luas pada perekonomian.
Pentingnya Keandalan Pasokan dan Transisi Energi
Ia menegaskan bahwa keandalan pasokan (reliability of supply) kini menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar ketersediaan (availability). Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu memastikan jalur impor energi tetap aman dan stabil.
Selain itu, Eddy mendorong pemerintah memanfaatkan kondisi global saat ini sebagai momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah yang dapat dilakukan meliputi percepatan transisi energi, peningkatan efisiensi, elektrifikasi, serta pengurangan penggunaan bahan bakar berbasis diesel.
Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi impor sekaligus mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang melimpah di dalam negeri.








