Toyotacibinong.id – Serangan udara yang dilakukan Israel menghantam sebuah hotel di pusat ibu kota Lebanon, Beirut, pada Minggu (8/3/2026) dini hari. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya empat orang meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyampaikan bahwa serangan itu mengenai sebuah kamar hotel yang berada di kawasan Raouche. Area ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Beirut yang terletak di tepi Laut Mediterania.
Sebelumnya, kawasan Raouche hampir tidak pernah menjadi target serangan Israel, bahkan selama konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah yang berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata pada November 2024.
Hotel Dipenuhi Pengungsi Konflik
Hotel yang menjadi sasaran serangan diketahui menampung banyak warga yang mengungsi akibat konflik di wilayah selatan Lebanon serta daerah pinggiran selatan Beirut.
Wilayah pesisir tersebut memiliki banyak hotel yang kini digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi para pengungsi. Mereka meninggalkan rumah mereka karena pertempuran yang terus berlangsung di berbagai wilayah Lebanon.
Setelah serangan terjadi, sejumlah penghuni hotel terlihat segera meninggalkan gedung tersebut. Mereka khawatir akan kemungkinan serangan lanjutan dari militer Israel.
Israel Klaim Menargetkan Komandan IRGC
Militer Israel menyatakan bahwa serangan tersebut ditujukan kepada para komandan dari Pasukan Quds, unit elit dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Namun, pihak Israel tidak mengungkapkan identitas para komandan yang menjadi sasaran dalam serangan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut para komandan Pasukan Quds yang berada di Lebanon terlibat dalam mendukung serta merencanakan serangan terhadap Israel dan warganya.
Lebanon Terseret Konflik Regional
Situasi di Lebanon memanas setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran melancarkan serangan ke Israel pada 2 Maret 2026.
Serangan tersebut disebut sebagai respons atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Ratusan Korban Tewas dalam Sepekan
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, mengungkapkan bahwa serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon dalam sepekan terakhir telah menewaskan 394 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 korban merupakan anak-anak, sementara 42 lainnya adalah perempuan. Selain itu, sembilan petugas penyelamat juga dilaporkan menjadi korban dalam serangan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel terus melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah Lebanon. Pasukan darat Israel juga dilaporkan mulai bergerak di area perbatasan kedua negara.
Serangan Kedua ke Hotel di Beirut
Serangan pada Minggu dini hari ini menjadi serangan kedua yang menargetkan hotel di wilayah Beirut dalam satu pekan terakhir.
Sebelumnya, pada Rabu (4/3/2026), serangan udara Israel juga menghantam sebuah hotel di kawasan Hazmieh, wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen di sekitar Beirut.
Di sisi lain, kelompok Hizbullah menyatakan telah meluncurkan serangan roket pada Minggu pagi yang menargetkan pasukan Israel serta sebuah kota yang berada di seberang perbatasan.
Kelompok tersebut juga mengklaim terjadi bentrokan antara pejuangnya dengan pasukan Israel di sekitar kota perbatasan Aitaroun.
Warga Desa di Lebanon Selatan Diminta Mengungsi
Militer Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi kepada warga di empat desa yang berada di wilayah Lebanon selatan pada Minggu.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sebelumnya memperingatkan bahwa gelombang pengungsian akibat konflik yang terjadi saat ini berpotensi menimbulkan dampak besar.
Ia menilai situasi tersebut dapat memicu krisis kemanusiaan sekaligus tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi negaranya.
Menurut Nawaf Salam, Lebanon kini terseret ke dalam konflik yang menghancurkan, sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan oleh pemerintah maupun rakyat Lebanon.










